Nusantara News Center (NNC), JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meminta adanya penyesuaian persyaratan dalam proses rekrutmen prajurit TNI bagi masyarakat Suku Dayak pedalaman. Arahan tersebut dibahas dalam rapat bersama jajaran TNI dan sejumlah menteri di kediaman Prabowo di Hambalang, Jawa Barat, Sabtu (29/8/2026).

Permintaan tersebut muncul setelah Prabowo menerima Panglima Jilah, pemimpin besar Suku Dayak seluruh Kalimantan, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (28/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat Dayak menyampaikan sejumlah aspirasi, termasuk keinginan agar putra-putri Dayak pedalaman memperoleh kesempatan untuk bergabung menjadi prajurit TNI dan anggota Polri.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Prabowo kemudian meminta perkembangan terkait penyesuaian syarat perekrutan masyarakat Suku Dayak pedalaman yang ingin menjadi prajurit TNI.

Menhan: Ada Keistimewaan dalam Rekrutmen

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan bahwa masyarakat Suku Dayak pedalaman akan mendapatkan peluang khusus dalam proses perekrutan TNI.

" Suku Dayak pedalaman dimintakan peluang untuk bisa masuk TNI," ujar Sjafrie saat ditemui di DPR, Senin (31/8/2026). Ia menyebut akan ada sedikit privilege atau kelonggaran tertentu dalam proses tersebut.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat Dayak pedalaman yang memiliki keinginan mengabdi melalui institusi TNI.

Tato Adat Bukan Penghalang

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memberikan penjelasan terkait salah satu persoalan yang selama ini menjadi perhatian, yakni tato yang merupakan bagian dari tradisi adat sebagian masyarakat Dayak.

Menurut Maruli, masyarakat yang memiliki tato karena tradisi adat sebenarnya sudah diperbolehkan mendaftar sebagai prajurit TNI sejak sebelumnya.

"Memang dari dulu juga sudah boleh, memang nggak ada masalah itu. Dulu dibuatnya kalau punya tato karena tradisi ya diizinkan," kata Maruli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Maruli mengatakan hingga saat ini belum banyak masyarakat Dayak dengan tato tradisional yang mendaftar melalui jalur tersebut. Ia memastikan persoalan tato adat tidak menjadi hambatan bagi mereka yang ingin mengikuti proses seleksi.

Ia juga menegaskan bahwa tidak seluruh masyarakat Dayak memiliki tato, sehingga persoalan tersebut tidak semestinya menjadi generalisasi terhadap masyarakat Dayak secara keseluruhan.

TNI Ingin Ada Keterwakilan dari Seluruh Daerah

Maruli menyambut baik peluang meningkatnya keterwakilan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia di tubuh TNI.

Menurutnya, TNI saat ini juga tengah melakukan penambahan personel. Karena itu, semakin banyak masyarakat dari berbagai wilayah yang berminat untuk mengabdi sebagai prajurit dinilai menjadi hal positif.

"Kita juga senang kalau ada semua perwakilan daerah seluruh Indonesia," ujar Maruli.

Berawal dari Pertemuan Prabowo dan Panglima Jilah

Wacana tersebut tidak terlepas dari pertemuan Prabowo dengan Panglima Jilah di Istana Merdeka.

Dalam pertemuan itu, Prabowo menerima aspirasi masyarakat Dayak Kalimantan dan menginstruksikan pembangunan sejumlah kebutuhan masyarakat Dayak, termasuk pembangunan jalan di daerah pedalaman, sekolah rakyat, dan rumah adat.

Permintaan mengenai kesempatan bergabung menjadi prajurit TNI dan Polri juga menjadi salah satu aspirasi yang disampaikan.

Dengan adanya arahan Presiden, pemerintah bersama TNI kini perlu menindaklanjuti mekanisme penyesuaian persyaratan tersebut. Kebijakan ini diharapkan dapat membuka akses pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat Dayak pedalaman, sekaligus memperkuat keterwakilan putra-putri daerah dalam institusi pertahanan negara.