Direktur Network Telkom, Nanang Hendarno, bersama tim teknis TelkomGroup mengecek perangkat jaringan di salah satu lokasi terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan konektivitas serta memastikan layanan
NUSANTARA NEWS CENTER (NNC), JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mempercepat pemulihan jaringan telekomunikasi di 11 kabupaten/kota terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 683 dari 794 Base Transceiver Station (BTS) yang sempat mengalami gangguan dilaporkan telah kembali beroperasi normal.
Pemulihan BTS menjadi bagian penting dalam penanganan bencana karena jaringan komunikasi dibutuhkan untuk proses evakuasi, penyampaian informasi darurat, koordinasi petugas, hingga komunikasi antara warga dan keluarganya.
Dari total BTS yang terdampak, masih terdapat 111 titik yang belum kembali beroperasi. Pemerintah bersama operator telekomunikasi terus melakukan perbaikan agar seluruh layanan komunikasi dapat segera pulih.
Sinyal Dipulihkan di 11 Kabupaten/Kota
Gangguan telekomunikasi terjadi di 11 kabupaten/kota setelah gempa merusak infrastruktur dan mengganggu pasokan listrik di sejumlah wilayah.
Kemkomdigi kemudian melakukan koordinasi dengan operator seluler untuk memetakan BTS yang mengalami gangguan. Perbaikan diprioritaskan pada wilayah terdampak berat, lokasi pengungsian, fasilitas kesehatan, serta pusat distribusi bantuan.
Dengan beroperasinya kembali 683 BTS, sebagian besar masyarakat di wilayah terdampak mulai dapat menggunakan layanan komunikasi untuk menyampaikan kondisi dan memperoleh informasi.
Komunikasi Menjadi Kebutuhan Darurat
Dalam situasi bencana, sinyal telekomunikasi bukan sekadar kebutuhan untuk menggunakan telepon atau internet. Jaringan tersebut menjadi penghubung utama dalam proses penyelamatan dan penyaluran bantuan.
Petugas membutuhkan komunikasi untuk melaporkan kondisi lapangan, meminta tambahan logistik, mengatur evakuasi, serta menentukan wilayah yang harus diprioritaskan. Sementara itu, warga menggunakan jaringan untuk menghubungi keluarga dan melaporkan apabila masih membutuhkan pertolongan.
Terputusnya komunikasi dapat menyebabkan informasi dari daerah terpencil terlambat diterima. Karena itu, pemulihan BTS dilakukan bersamaan dengan pembukaan akses darat dan pemulihan fasilitas umum lainnya.
111 BTS Masih Dalam Penanganan
Meski sebagian besar jaringan telah pulih, sebanyak 111 BTS masih dalam proses penanganan.
Pemulihan di sejumlah lokasi menghadapi tantangan berupa kerusakan perangkat, gangguan pasokan listrik, serta akses menuju lokasi BTS yang belum sepenuhnya mudah dijangkau. Kondisi geografis NTT yang terdiri atas wilayah kepulauan juga membuat pengiriman teknisi dan peralatan membutuhkan koordinasi lebih lanjut.
Pemerintah dan operator diharapkan tidak hanya mengaktifkan kembali perangkat, tetapi juga memastikan kualitas sinyal cukup stabil untuk mendukung komunikasi masyarakat dan petugas di lapangan.
Listrik dan Akses Menentukan Pemulihan
BTS membutuhkan pasokan listrik agar dapat beroperasi. Ketika jaringan listrik terganggu, operator harus menggunakan sumber daya cadangan seperti baterai atau generator.
Ketersediaan bahan bakar untuk generator dan kelancaran akses menuju lokasi BTS menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Teknisi juga harus memastikan perangkat aman digunakan setelah terdampak guncangan.
Karena itu, penanganan jaringan telekomunikasi membutuhkan kerja sama antara Kemkomdigi, operator seluler, pemerintah daerah, penyedia listrik, serta petugas penanganan bencana.
Sinyal Kembali, Koordinasi Bantuan Dipercepat
Pulihnya 683 dari 794 BTS membawa harapan bagi masyarakat yang sebelumnya kesulitan berkomunikasi setelah gempa. Warga mulai dapat menghubungi keluarga, sementara petugas dapat mempercepat penyampaian informasi mengenai kebutuhan di lokasi terdampak.
Kemkomdigi masih memiliki tugas memulihkan 111 BTS lainnya agar layanan komunikasi kembali tersedia secara merata di seluruh wilayah terdampak.
Pemulihan jaringan menjadi salah satu fondasi penanganan bencana. Ketika sinyal kembali menyala, informasi dapat bergerak lebih cepat, koordinasi bantuan menjadi lebih lancar, dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan tidak lagi terputus dari dunia luar.