Nusantara News Center (NNC), Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Ukraina mengganti Presiden Volodymyr Zelenskyy setelah pemimpin Kyiv itu mengkritik kesepakatan pasokan solar antara Washington dan Moskow. Pernyataan Trump menambah ketegangan hubungan AS-Ukraina di tengah perang yang belum berakhir.

Trump menyampaikan desakan tersebut kepada wartawan pada Sabtu (10/10/2026) waktu setempat. Ia menilai Ukraina membutuhkan pemimpin yang bersedia mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

“Saya menyarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan, karena ia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan, tetapi entah mengapa tidak pernah melakukannya,” kata Trump, sebagaimana dikutip sejumlah media internasional.

Trump juga mengatakan sudah waktunya Ukraina memiliki presiden baru. Ia kembali mengkritik serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan fasilitas energi Rusia, yang menurutnya turut mengganggu pasokan bahan bakar dan mendorong kenaikan harga solar.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memasok solar ke pasar Amerika Serikat dan pasar global. Pemerintah AS menyebut kebijakan itu sebagai upaya menambah pasokan dan menekan harga bahan bakar yang meningkat.

Kesepakatan tersebut mencakup rencana pengiriman solar Rusia dalam jumlah besar. Pemerintah AS juga memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi pengiriman bahan bakar Rusia hingga April 2027 untuk memungkinkan pasokan tersebut masuk ke pasar.

Namun, langkah itu menuai kritik karena berpotensi memberikan pemasukan tambahan kepada Moskow ketika perang Rusia-Ukraina masih berlangsung. Sejumlah anggota parlemen AS turut mempertanyakan kebijakan tersebut karena dinilai bertentangan dengan upaya menekan pendapatan Rusia melalui sanksi.

Presiden Zelenskyy sebelumnya mengecam kesepakatan itu. Ia menilai pendapatan dari penjualan energi Rusia dapat digunakan untuk membiayai perang melawan Ukraina. Zelenskyy bahkan menyebut kesepakatan tersebut sebagai “hadiah bagi Putin”.

Pemerintah Ukraina juga mengkhawatirkan pelonggaran sanksi tanpa jaminan penghentian serangan Rusia. Kyiv menilai tekanan ekonomi terhadap Moskow masih diperlukan agar Rusia bersedia mengakhiri agresinya.

Di sisi lain, Trump menyalahkan serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia atas dampaknya terhadap pasokan solar. Ia meminta Zelenskyy menghentikan serangan tersebut dan menilai langkah itu merugikan kepentingan ekonomi Amerika Serikat, termasuk sektor pertanian dan transportasi.

Zelenskyy menegaskan bahwa keputusan mengenai kepemimpinan Ukraina merupakan hak rakyatnya. Dalam wawancara dengan ABC yang diberitakan Reuters pada Minggu (11/10/2026), ia menyatakan bersedia menyelenggarakan pemilihan jika Rusia menyetujui gencatan senjata selama 60 hari. Pelaksanaan pemilu di Ukraina sendiri menghadapi kendala hukum dan teknis selama status darurat perang masih berlaku.

Perbedaan sikap kedua pemimpin tersebut memperlihatkan rumitnya upaya mencapai penyelesaian perang. Di tengah kebutuhan menjaga pasokan energi dan tekanan untuk menghentikan konflik, kesepakatan dagang AS-Rusia justru membuka perselisihan baru mengenai sanksi, dukungan terhadap Ukraina, dan arah diplomasi Washington terhadap Moskow.